oleh

Kesaksian Para PPTK Dalam Tipikor PUPR Babel, Ada Setoran ke Terdakwa Sapri?

babelpos

*Sapri Bantah Soal Persentase Setoran —

SEBANYAK 4 saksi dari pejabat PPTK di Dinas PUPR Bangka Belitung, masing-masing: Yeyepan Oktari, Beny Saputra, Indra Jaya Putra dan Padli diperiksa sebagai saksi di muka sidang Tipikor dalam proyek tebasan jalan dengan terdakwa Sapriadi selaku PPTK, kemarin.

Dalam sidang dengan majelis yang diketuai Iwan Gunawan, para saksi mengatakan dalam proyek proyek swakelola kegiatan pemeliharaan rutin jalan Bina Marga pada Dinas PUPR Bangka Belitung pada tahun 2018 hingga 2021 untuk pemotongan rumput/ semak belukar atau tebasan atau perambasan untuk ruas jalan, setiap kali usai pencairan atas pekerjaan selalu memberikan setoran kepada terdakwa Sapriadi selaku PPK.

Setoran yang sudah menjadi kesepakatan itu bervariatif. Sesuai dengan besaran serta panjangnya (kilometer) pekerjaan dari bahu jalan. Adapun yang telah disepakati semuanya adalah berkisar antara 20 persen hingga 35 persen.

Seperti yang diungkap para saksi di muka sidang kemarin saat usai pencairan saksi: Yeyepan Oktari menyetor Rp 82 juta. Indra Jaya Rp 39 juta. Padli Rp 33 juta. Beny Saputra Rp 26 juta.

Menariknya, walau terjadi setoran-setoran tersebut seluruh saksi mengklaim seluruh pekerjaan penebasan jalan tersebut telah dilaksanakan dengan baik dan benar. Pembayaran-pembayaran terhadap pekerjanya telah dilaksanakan secara benar. Setelah selesai dari pekerjaan itu dan dilaksanaan pembayaran (pencairan), maka baru selanjutnya uang selisih itu diambil dan dibagi-bagi.

Para saksi PPTK yang nota bene adalah kolega dari Sapri sendiri juga saling cuci tangan saat dicecar soal rekanan. Para saksi serentak mengatakan rekanan (pekerja) yang melaksanakan penebasan adalah orang yang ditunjuk langsung oleh terdakwa Sapri juga.

Terkait adanya pengembalian uang dari para saksi PPTK itu kepada penyidik (saat penyidikan lalu.red) mereka berdalih karena merasa gak ada hak. Namun anehnya, para saksi sendiri mengklaim tak ada menerima sesuatu dalam proyek tersebut.

“Saya mengembalikan karena merasa gak ada hak,” tukas salah satu saksi Indra Jaya.