oleh

Konflik Makam Leluhur yang Tergusur Berlanjut, Smelter KJM Disomasi Lagi

babelpos

TAK memenuhi panggilan somasi pertama, kini smelter PT Kijang Jaya Mandiri (KJM) untuk kedua kalinya mendapat somasi dari kantor advokat Dr Adystia Sunggara dan associates selaku kuasa hukum dari ahli waris Ng Soen Thin alias Apin yang mana kuburan sepasang leluhurnya yang telah dibongkar tanpa izin di Merawang itu.

Surat somasi kedua itu bernomor 37/ASS-S.Somasi/V/2022 tanggal 13 Juni 2022. Yang ditujukan kepada Direktur PT Kijang Jaya Mandiri. Inti dari surat tersebut mengingatkan pihak smelter PT KJM ataupun Saklim als Alin untuk hadir ke kantor advokat Dr Adystia Sunggara dan associates di jalan RE Martadinata paling lamban tanggal 23 Juni 2022 guna klarifikasi dan konfirmasinya.

Di antara inti somasi kedua ini disampaikan bahwa ini merupakan awal bentuk laporan pengaduan atas persoalan dimaksud sebagaimana telah terlebih dahulu menyampaikan surat nomor 032/ASS-S.Somasi/IV/2022.

Diingatkan juga dalam surat agar pihak PT KJM dan Alin beritikad baik untuk dapat menyelesaikan persoalan dimaksud tanpa kami kuasa hukum melakukan pelaporan atas dugaan perusakan sebagaimana surat kami yang pertama.

“Somasi kedua ini adalah somasi terakhir. Artinya kita masih memberikan kesempatan kepada pihak smelter maupun Alin untuk duduk bersama menyelesaikan atas persoalan ini. Tapi bilamana somasi kedua tak juga ditanggapi, maka jalan akhirnya adalah pelaporan polisi,” tegas kuasa hukum Dr M Adystia Sunggara.

Dalam somasi awal nomor surat 032/ASS-S.Somasi/IV/2022 memuat inti bahwa pihak ahli waris dan pengacara menilai pembongkaran sepasang makam leluhur yang diduga dilakukan oleh Saklim alias Alin –karyawan- maupun PT KJM itu sangat disayangkan telah dilakukan tanpa izin. “Sehingga pembongkaran dan pengerusakan terhadap kedua makam tersebut telah dilakukan dengan lancang serta semena-mena, menodai kuburan, sedangkan pihak Saklim alias Alin maupun PT KJM bukanlah pemilik dari bangunan kedua makam tersebut,” sebut somasi tersebut.

Oleh karenanya, pihak kuasa hukum yang berkantor di jalan RE Martadinata, Pangkalpinang itu mengingatkan kalau perbuatan pihak Alin maupun PT KJM itu merupakan sebuah tindak pidana.

Disebutkan rujukan tersebut sesuai dengan ketentuan beberapa pasal dalam KUHP yakni: pada pasal 406 ayat (1) KUHP, tindakan menghancurkan, merusak dan membuat tidak dapat dipakai atau menghilangkan barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain, yang dalam hal ini dua makam milik klien merupakan sebuah tindak pidana dengan ancaman hukuman penjara paling lama 2 tahun 8 bulan atau denda.