oleh

Pakar Kebijakan Publik Apresiasi Inovasi Intan Anggun Pemkab Bangka

babelpos

SUNGAILIAT – Pakar Kebijakan Publik sekaligus akademisi STISIPOL Pahlawan 12 Bambang Ari Satria, S.IP, M.Si memberikan apresiasi pada inovasi Pemerintah Kabupaten Bangka INTAN ANGGUN “Pinjaman Tanpa Bunga dan Tanpa Anggunan”, inovasi yang lahir melalui kondisi yang dialami oleh masyarakat petani sawit karena permasalahan keterbatasan permodalan.

INTAN ANGGUN merupakan program Kebun Kelapa Sawit Rakyat, Pemerintah Kabupaten Bangka bekerja sama dengan perbankan yaitu Bank Syariah Mandiri dan Bank Sumsel Babel, perusahaan perkebunan sawit dan masyarakat petani. Inovasi ini yang pertama kali dilakukan di Indonesia.

Sisi Kebaruan dari Inovasi ini adalah INTAN ANGGUN kepada petani yang mempunyai lahan tetapi modal dan akses kemitraan terbatas dapat membangun kebun kelapa sawit secara mandiri.

“Inovasi INTAN ANGGUN berorientasi pada perekonomian kerakyatan dan telah menyasar pada kelompok masyarakat yang tepat sehungga dampaknya telah terbukti dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani di Kabupaten Bangka,” jelas Bambang Ari Satria.

Berdasarkan data BPS bahwa inovasi ini memberikan dampak signifikan diantaranya meningkatnya PDRB perkapita Kabupaten Bangka 35,365 tahun 2015 menjadi 49,03 pada tahun 2021, meningkatnya laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Bangka dari 4,53 pada tahun 2017 menjadi 7,48 tahun 2021, peningkatan jumlah keluarga kepesertaan petani dari 125 KK menjadi 697 KK, peningkatan lahan dari 250 hektar menjadi 1.392 hektar, peningkatan kelompok tani dari 5 Kelompok Tani menjadi 26 Kelompok Tani, peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) dari 84,65 (2019), 113,46 (2020), dan 123,80 (2021), serta penurunan gini rasio dari 0,278 tahun 2017 menjadi 0,256 tahun 2021.

Menurut Bambang Ari Satria, INTAN ANGGUN menjadi kebijakan yang sangat membantu masyarakat dan petani kebun sawit yang selama ini masih dekat dengan garis kemiskinan, dan gagasan ini sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Ditambahkan Bambang, bahwa keberlanjutan inovasi ini sangat ditentukan oleh kolaborasi berbagai stakeholder yakni Pemerintah Daerah Kabupaten Bangka, dunia usaha, masyarakat petani, serta terpenting adalah perbankan.

“Pemerintah bertanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tapi pemerintah tidak bisa melakukannya sendirian. Diperlukan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak untuk memastikan keberlanjutan seluruh program program dan inisiatif,” jelas Bambang.

Kedepan diharapkan Bambang, inovasi ini berpotensi untuk direplikasi di berbagai daerah di Indonesia yang memiliki perkebunan sawit dan non sawit seperti Riau, Kalimantan Tengah, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Kalimantan Selatan, Aceh, Sumatera Barat. (**)