oleh

Mengukur Baju….

babelpos

MESKI Pemilu dan Pilkada 2024 masih lama, namun peminat –khususnya untuk Kepala Daerah, baik itu Bupati/Wakil Bupati, Walikota/Wakil Walikota, maupun Gubernur/Wakil Gubernur, ‘bau-baunya’ mulai tercium.

Oleh: Syahril Sahidir – CEO Babel Pos Grup —

NAMUN, mungkin terlalu dini jika kita sudah mulai mengkalkulasi kekuatan kandidat yang berminat.

Hanya mungkin, hal yang perlu direnungkan oleh kandidat serta pendukungnya adalah, jangan sekali-kali seorang kandidat –termasuk pendukungnya– menyerang kandidat lain lain. Karena itu sama saja sudah mengukur baju di badan.

Kata para politikus: Di saat jari telunjuk mengarah ke orang lain, ingatlah empat jari lainnya mengarah ke diri sendiri. Rakyat negeri ini sangat tak suka ketika lawan politik melakukan serangan apalagi jika berlebihan. Jika itu yang terjadi, justru bisa menimbulkan simpati ke sang lawan, dan menimbulkan kebencian terhadap sang penghujat.

Pembunuhan karakter lawan politik biasa dilakukan, tapi jika sampai ‘mematikan’, justru bisa menimbukan simpatik publik.

Jangan membenci lawan politik, tapi justru dekati dan dengarkan dan biarkan ia bersuara soal berbagai kelemahan dan masalahmu. Sebaliknya, jangan terlena dengan temanmu, karena tidak jarang justru itu menjerumuskanmu.

Jangan tegang, jangan panas, jangan saling curiga. Yah, biasa-biasa saja?

Sudah lazim terjadi, pola-pola pesta demokrasi ala Indonesia –khususnya– adalah bak api dalam sekam. Telunjuk lurus, kelingking berkait.

Sudah lazim terjadi, para calon tak bermain, para tim inti yang terdaftar di penyelenggara manis bicara, tapi pendukung dan simpatisan yang tak tercatat entah melakukan apa?

Pola-pola seperti ini untuk Pilkada di awal-awal sejak Pemilu langsung dimulai di negeri ini, sebenarnya tidak begitu berbahaya. Karena saat itu, media sosial (Medsos) belum seperti sekarang ini.

Namun untuk saat ini, justru Medsos sangat luar biasa. Tak hanya kampanye untuk kepentingan calon yang didukung, tapi kadang menyerang kandidat lain.

Bahkan ada seorang pendukung calon tertentu yang setiap status dalam tulisannya seperti menyerang kandidat lain melakukan sesuatu yang berbau kecurangan. Seolah kandidat lain melakukan money politik dengan memberikan ini, itu, bahkan duit.

Jika tudingan itu tanpa alamat, sebenarnya pola ini justru berbahaya bagi kandidat yang didukung oleh penulis status itu sendiri. Bukankah pembaca akan bertanya, calon mana yang dimaksud? Jangan-jangan calon yang dimaksud adalah calon yang didukung itu sendiri? Tapi untuk menutupi, malah menunjuk seolah dilakukan calon lain?

Pilkada di negeri ini sudah berulang kali. Adalah sangat naif jika simpatisan dan pendukung masih melakukan cara-cara atau pola-pola lama dengan menyerang kelemahan pribadi, masa lalu, atau keluarga kandidat lain. Karena masyarakat negeri ini sudah jenuh dan bosan dengan cara-cara itu.

Alangkah eloknya jika simpatisan atau pendukung justru melansir program-program sang calon yang didukung. Biarkan publik menilai, biarkan pendukung atau simpatisan calon lain yang memberikan pandangan realistis atau tidaknya? Masuk akalkah? Atau cuma ‘ngecap’ saja.

Di masa-masa sekarang, justru sangat elok jika kandidat justru bermain bersama rakyat. Tak menjanjikan, tapi berbuat dan tak salahnya juga bila memberi dalam arti yang luas.

Sekali lagi, jangan menyerang kandidat lain, apalagi kandidat yang pernah berkuasa. Karena jika itu dilakukan, maka akan berbalik, memangnya kamu sudah melakukan apa?

Ah, politik. ***