oleh

Semangat Pagi untuk Pak RD

babelpos

SEMANGAT Pagi, untuk Pejabat Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Ridwan Djamaluddin yang di kalangan media diakrabkan dengan nama panggilan RD.

Oleh: Syahril Sahidir – CEO Babel Pos Grup —

PROVINSI dengan ciri khas tambang timahnya ini adalah dikenal sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera –dan nomor 4 di Indonesia–. Semua itu, tentu tak lepas dari peran timah juga.

Pertanyaannya, apakah itu karena tambang timah yang legal atau ilegal? Sebuah teka-teki yang tak perlu dijawab.

Lalu, penunjukan RD sebagai pejabat Gubernur Babel oleh Presiden Jokowi, tentu tak hanya melihat dari sisi selaku putra daerah saja. Tapi juga posisi staregisnya yang dikenal juga sebagai Dirjen Minerba di Kementerian ESDM, dan ini menjadi bahan analisa untuk sebuah misi dan keinginan mulia dari pemerintah pusat guna membenahi tata kelola pertimahan di Negeri Serumpun Sebalai ini.

Dan, RD beberapa kali secara tegas menyatakan untuk menghentikan pertambangan ilegal di daerah ini.

Apakah banyak?

Bukankah tambang ilegal di Babel ini boleh dikatakan bak jamur di musim hujan, seiiring dengan kenaikan harga komoditas timah. Ada gula ada semut. Itu sudah hukum alam.

Contoh kongkrit depan mata. Wilayah Kota Pangkalpinang adalah wilayah yang nyata-nyata tidak ada pertambangan. Tapi faktanya, berapa banyak tambang-tambang ilegal ada di daerah ini. Tak perlu sejauh mata memandang, karena ada di pelupuk mata. Lihatlah di sekitaran wilayah perkantoran Pemerintah Provinsi saja, itu berapa banyak?

Apakah baru? Oh, sudah lama?

Apakah kucing-kucingan? Tidak juga.


BENARLAH anekdot kadang, bahwa Pulau Bangka dan Pulau Belitung, bukanlah pulau timah. Tapi timah jadi pulau.

Nyaris di semua tempat dan semua sisi wilayahnya mengandung bahan mineral yang berharga itu. Tidak heran kadang, menggali sumur ada timah, menggali kuburan ada timah, menggali apapun ada timah.

Inilah tantangan utama untuk RD. Timah yang demikian memikat dan dapat mendatangkan cuan bagi rakyat dengan cepat, tentu tak bisa serta merta langsung ditertibkan dengan hukum hitam-putih. Dan secara kewilayahan, RD juga tentu tidak mungkin bisa bergerak sendiri atau bergerak hanya dengan mengandalkan para pejabat yang ada di jajaran provinsi. Mau tidak mau, Bupati/Walikota harus dilibatkan.

Dan, ini mungkin nilai plusnya kehadiran RD selaku Pj Gubernur Babel. Dalam hal untuk koordinasi dengan kepala daerah di Kabupaten/Kota, RD tentu lebih gampang dan lebih mudah. Karena RD jelas-jelas berasal dari birokrat, non partisan. RD adalah pejabat yang bukan politikus meski berada di posisi jabatan politik.

RD tentu menyadari dan tahu, tidak mudah baginya untuk membenani tata kelola timah daerah ini. Selaku putra daerah, ia tentu banyak tahu persoalan yang ada, tak hanya dari kalangan elite, tapi hingga kalangan rakyat penambang.

Namun, sekali lagi, langkah yang tidak mudah itu akan menjadi bisa jika koordinasi dari atas ke bawah berjalan baik.

Adalah menjadi harapan, Pemerintah Provinsi dengan segenap perangkat OPD-nya jangan menjadi bak menara gading. Seolah urusan rakyat itu urusan Bupati/Walikota dan perangkatnya yang punya wilayah.

Pemerintah Provinsi dan jajaran diharapkan punya langkah dan program yang terkoordinasi dengan Kabupaten/Kota. Jangan sampai jadi asyik sendiri lalu merasa hebat sendiri. Tapi adalah menjadi harapan, agar Pemerintah Provinsi dengan segenap jajarannya itu rajin turun ke bawah, rajin berkoordinasi, rajin pula bertanya,… Misalnya, Nak sudah makan apa belum?

Untuk itu pula, RD tampaknya harus melihat lagi langkah dan program setiap OPD-nya. Jangan sampai ‘ilmu swakelola’ di setiap jajaran menjadi salah kaprah.

Jangan terjadi, dianggarkan sendiri, disiapkan sendiri, dibuat sendiri, lalu dibagi-bagi untuk kalangan sendiri.

Soal kewajiban agar ada keterbukaan ke publik, malah seperti dihindari atau malah diakali. Misalnya, dengan dalih agar rakyat tahu, dibuat pula media sendiri, dipublikasikan sendiri. Jangan-jangan dibaca pula sendiri, dikomentari oleh kalangan sendiri.

Kata orang-orang tua: Mari berat sama dipikul, ringan jinjing sendiri.

Semangat Pagi, Pak RD! ***