oleh

Drama Sebabak untuk ‘Molen’

babelpos

TUDINGAN gratifikasi mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Suparlan kepada Walikota Pangkalpinang, Maulan Aklil ditanggapi tegas oleh Walikota.

Oleh: Syahril Sahidir – CEO Babel Pos Grup —

MOLEN bahkan siap melaporkan ke Polda Babel terkait pencemaran nama baik. Namun, bagi dia, kisruh seperti ini dunia politik merupakan intrik yang mau tidak mau harus dihadapi apalagi menjelang tahun politik 2024.

Ilustrasinya bagai berdiam di pinggir pantai jadi harus siap dengan kehadiran ombak atau terpaan angin. Hal ini akan dihadapi terus dan berharap masyarakat paham. Dia juga menegaskan dan memastikan bahwa dia tidak melakukan apa yang dituduhkan.

Molen merasa tetap perlu menempuh jalur hukum. “Saya harus membersihkan nama baik saya. Tidak boleh diam saja masalah ini,” ujar Molen.

Hal yang menjadi sorotan dalam kasus ini, namun justru seolah tak memerlukan jawaban.

Ada apa dengan Suparlan? Mengapa laporan itu mencuat justru di saat dia tidak Kepala Dinas PUPR Kota lagi?

Sekali lagi, ini tak perlu jawaban. Hanya saja analisa pribadi tiap orang menjadi liar.

—————–

LOGIKANYA, tudingan Suparlan sangat bernilai dalam segala hal. Baik dalam dunia birokrasi, hukum, apalagi politis.

Namun faktanya mengapa justru terkesan kurang ‘menarik’ lagi? Padahal yang diangkat adalah orang nomor satu di Ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini?

Tak menariknya adalah karena isu ini terangkat justru ketika Suparlan bukan lagi pejabat yang duduk di kursi kepala OPD strategis.

Sekiranya posisi Suparlan saat ini masih Kepala Dinas PUPR Kota, lalu isu gratifikasi ini terangkat, tentu ‘nilai jual’ isu itu, baik secara birokratis, politis, dan hukum akan menjadi perhatian publik.

Isu ini hanya menjadi menarik karena lebih banyak bernilai politis ketimbang bernilai hukum dan birokratis. Dan itu pun langsung dijawab oleh Molen. Bahkan Molen menyatakan dia memohon doa untuk kuat menghadapi serangan politik dari lawan politik menjelang tahun politik nanti.
Secara tersirat Molen menyadari semakin hari serangan terhadap dirinya akan semakin besar.