oleh

Babel Berpotensi Kembangkan One Village One Product Demi Ketahanan Pangan & Ekspor

babelpos

PANGKALPINANG – Pelatihan Sertifikasi dan Uji Kompetensi Ekspor yang diselenggarakan oleh UPTD Balatkop dan UMKM Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Bangka Belitung sejak 17 Mei 2022 secara resmi ditutup oleh Kepala UPTD Balatkop dan UMKM, Martinawati didampingi sejumlah asesor uji kompetensi ekspor nasional, Jum`at (20/05/2022) di Sun Hotel Pangkalpinang.

Dalam arahannya Martinawati yang sekaligus mewakili Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Babel, Yulizar Adnan menyampaikan apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan kegiatan ini.

Ia berharap pelatihan ini semacam ini akan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan lebih intensif lagi ke depannya. Peserta yang sudah mengikuti pelatihan dan uji kompetensi ekspor inipun diharapkan semakin mampu menyerap lebih banyak pengalaman, pengetahuan dan kompetensi ekspor, supaya selanjutnya dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas mutu produk usahanya agar layak dan diterima di pasar ekspor.

“Pemain-pemain ekspor di Babel ini harus terus bertumbuh untuk memanfaatkan potensi-potensi yang banyak sekali di Babel ini. Dan yakinlah, apabila sudah semakin banyak pemain ekspor yang sukses di Babel ini, maka dampaknya pun akan besar dalam meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di daerah ini,” tambah Martinawati.

Pelatihan Sertifikasi dan Uji Kompetensi Ekspor tahun anggaran 2022 menghadirkan narasumber nasional seperti Nur Hidayat, Budi Edi Santoso hingga Abdullah Umar Bahar.

Abdullah Umar Bahar, salah satunya merupakan Asesor Uji Kompetensi dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Perkoperasian Indonesia. Ia Anggota Perkumpulan Profesi Ekspor Impor Seluruh Indonesia sekaligus Founder Naghari Corp House of Indonesia Product (PT Rumah Produk Indonesia).

Abdullah Umar Bahar menilai setiap daerah memiliki potensinya masing-masing, termasuk Bangka Belitung yang sejak dulu dikenal kaya dengan hasil sumber daya mineral berupa timah maupun sektor perkebunan lada putih atau Muntok White Pepper.

Pengusaha eksportir yang sudah merambah ke berbagai negara ini, menilai bahwa Babel memiliki salah satu potensi produk khasnya yakni lada putih. Permintaan pasar akan lada putih masih signifikan. Sehingga peluang ini harusnya tetap konsisten dikembangkan di Babel.

Abdullah merupakan eksportir kayu arang ke sejumlah negara khususnya Timur Tengah. Ia mengaku, sebelumnya arang kayu yang dimanfaatkan tersebut, justeru masih dinilai banyak orang adalah limbah yang tidak terpakai. Bahkan di Kalimantan hanya digunakan untuk proses pembakaran bata merah.

Menurutnya, untuk bisa mengembangkan diri, maka seorang pengusaha juga harus banyak bermain keluar, karena kalau tidak berani bermain di luar maka tidak akan tahu dan kenal peluang-peluang ekonomi apa yang bisa dimanfaatkan.

Ia mengaku masih sering dapat permintaan dari para importir dari banyak negara yang membutuhkan produk kopi, kunyit, rempah-rempah dan sebagainya.

“Datanglah ke pasar sesuai segmennya, ke ajang-ajang pameran dan memanfaatkan lingkungan sekitar itu menjadi penting, agar kita semakin banyak memiliki link atau network sebagai jalan mendapatkan informasi permodalan dan sebagainya. Apalagi potensi di Babel juga tidak hanya timah dan lada, tetapi juga ada minyak nilam, lidi nipah, lidi sawit dan masih banyak lainnya,” sebutnya.

Abdullah mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan pembinaan eksportir yang dilaksanakan Balatkop dan UMKM Babel ini. Ini harus dilakukan secara berkelanjutan dalam jangka panjang. Karena ekspor tidak boleh buntu.

“Misalnya hari ini kirim, besok tidak ekspor lagi. Kalau seperti ini maka importir tidak akan mau. Sehingga demi eksistensi ekspor produk di daerah, sangat perlu dikelola secara berjamaah,” ujarnya.

Abdulah mendukung langkah yang dilakukan oleh Diskop Babel untuk melakukan pelatihan ini secara berkelanjutan, supaya semakin banyak orang Babel yang paham dan bisa memanfaatkan potensi yang selama ini mungkin masih dianggap tidak bernilai. Seperti ampas pohon pisang dan sebagainya yang mungkin selama ini orang buang-buang saja, padahal punya nilai yang tidak kecil di luar negeri.

“Makanya secara berkesinambungan, semua pihak harus terus bisa saling berbagi. Dalam sebuah upaya pengembangan juga membutuhkan kebersamaan, misalnya melalui program one village, one product. Seperti di Kerinci yang menjadi sentra produksi kayu manis, Aceh fokus pada produksi kopi, demikian juga dengan daerah-daerah lainnya,” terangnya.

Hal ini katanya, harus dijadikan satu pembelajaran yang bagus untuk Bangka Belitung, supaya ketika harga komoditi timahnya sedang turun, tetap bisa terbantu dengan varietas-varietas unggulan lainnya yang dihasilkan.

“Karena di berbagai lingkup desa atau kecamatan, sudah ada sentra-sentranya. Minimal ini juga akan menjadi solusi yang efektif untuk tetap menjaga ketahanan pangan di daerah,” dorongnya. (**)