oleh

‘Malu’ saya Tidak Punya

babelpos

MENJADI pejabat apalagi pejabat politik, memang harus siap. Karena ada penderitaan yang tak tertanggungkan yang harus siap dihadapi.

Oleh: Syahril Sahidir – CEO Babel Pos Grup —

APA itu?

Pertama, adalah derita karena merasa dicintai dan disukai rakyat. Padahal itu semua adalah halusinasi.

Penyakit ini memang berbahaya karena menyentuh bagian angan-angan sehingga secara medis cukup berat untuk ditangani. Apalagi kadang sang penderita merasa dirinya sangat sehat, sehingga ia menganggap disukai rakyat dan orang banyak itu adalah fakta.

Kedua, adalah penyakit tak mau turun dari kursi jabatan yang tengah diduduki. Padahal, semua ada batas dan waktunya.

Kedua penyakit ini tidak terpisah satu sama lain, tapi malah saling berkaitan. Bahkan penyakit kedua kadang justru menjadi sumber dan penyebab munculnya penyakit pertama.

Penyakit kedua ini penderita cenderung merasa waktu berjalan terlalu cepat. Siang dan malam begitu cepat berlalu, kedudukan yang jika dihitung-hitung masih 2-3 tahun lagi seolah akan berakhir esok pagi.


APA ciri-ciri penderita kedua penyakit ini?

Penderita suka ngomong ngelantur, inskonstitusional, kadang berkhayal, bahkan kadang merasa halusinasinya menembus jagad.

Bahkan suatu kali jangan kaget jika ia tak mau keluar kantor karena merasa ada massa di depan kantornya yang tengah menuntut agar jabatan dan kedudukannya diperpanjang.

Apa ciri kedua penyakit ini?

Pertama, sudah tak malu-malu lagi memuji diri sendiri, berkhayal tinggi, bahkan menganggap paling berjasa dan paling banyak berbuat untuk negeri ini. Padahal mereka sedari kecil tak pernah merasakan derita rakyat yang harus antri minyak goreng, atau mengeluh beras mahal, misalnya.

Kedua, gemar dan hobi berbohong. Ini pasti dan sejalan dengan ciri pertama.


”NAK, rakyat lagi senang-senangnya dengan Bapak. Mari kita bantu,” ujar seorang pejabat politik yang sakit itu.

”Caranya, Pak?” anak pertama bertanya…

”Proyek yang ada harus anak-anak Bapak yang mengerjakan. Bapak tidak yakin rakyat terbantu jika yang mengerjakan orang lain….”

”Oke Bapak. Kalau begitu saya minta semua proyek jalan saya yang mengerjakan.” ujar si anak pertama.

”Oke, besok Bapak bilang Kepala PUPR biar mengaturnya,” ujar si Bapak.

”Lalu kamu minta apa?” lanjutnya seraya menanyakan kepada anak kedua.

”Saya minta semua proyek pengadaan saya yang tangani,” ujar anak kedua.

”Gampang, besok semua Kepala Dinas saya perintahkan untuk mengaturnya,” ujar si Bapak.

”Lalu kamu minta apa?” ujarnya ditujukan kepada anak ketiga.

”Saya minta agar semua proyek bangunan saya yang mengerjakan,” ujar si anak ketiga.

”Besok saya perintahkan seluruh kepala dinas mengaturnya,” ujar si Bapak.

”Loh kamu ada di ruangan ini juga yah? Berarti dengar semua pembicaraan saya dengan anak-anak saya tadi?” ujar si Bapak kaget melihat ajudannya yang dari tadi berdiri dekat pintu.

”Aduh, maaf Bapak. Saya biasanya baru keluar kalau sudah diperintahkan Bapak untuk keluar?” ujar si ajudan salah tingkah.

”Oke, sekalian kamu jugalah, kamu minta apa?”

”Maaf Bapak, saya jadi malu minta…”

”Apa? Minta ‘malu’? Aduh, jangan. Kalau ‘malu’ saya sudah gak punya?” ***