oleh

Muka Badak

babelpos

MERASA hebat, merasa disukai rakyat, merasa layak jabatan dan kedudukannya diperpanjang, hingga keluar usulan Pemilu ditunda, kedudukan diperpanjang, karena rakyat masih membutuhkan.


Oleh: Syahril Sahidir
CEO Babel Pos Grup

RAKYAT yang mana? Entahlah…

Omongan demikian adalah inskonstitusional, pelanggaran nyata terhadap aturan dan UU, lebih dari itu, omongan tersebut sangat tidak layak keluar dari mulut elite atau pejabat politik, apalagi setingkat menteri, ketua partai, anggota DPR RI.

Tak perlu pintar-pintar amat untuk memahami kemana arah itu semua. Rakyat yang awam pun paham.

Langkah berikutnya juga –lagi-lagi yang tak mengerti politik– akan mudah mengerti. Maunya, begitu usulan itu mencuat, maka rame-rame lah rakyat –dengan kelompok-kelompk diuntungkan mendukung usulan tersebut, dibuat semakin kuat, semakin deras, terus didorong, lalu isu sentralnya, menjadi gerakan Pemilu Ditunda.

Tadi, katanya itu pelanggaran konstitusi?

Loh, konstitusi dibuat untuk rakyat. UU dan aturan dibuat untuk rakyat. Karena rakyat sudah deras dan banyak yang mendorong Pemilu ditunda, maka DPR harus mengakomodir,…

Nah, itu sudah urusan gampang. Bukankah usulan Pemilu ditunda tadinya dari para Ketua Partai yang juga notabene dari perlemen juga?

Ternyata Abu Nawas bukan hanya di Timur Tengah, tapi juga ada di negeri ini, bahkan di tengah-tengah….


SEMANGAT reformasi dengan jabatan 2 periode maksimal –itu 10 tahun– sudah dipehitungkan matang.

Amerika Serikat (AS) yang cuma 4 tahun 1 periode –berkuasa hanya untuk 2 periode jika terpilih lagi–, tak pernah ada yang namanya isu Pemilu ditunda, jabatan diperpanjang, atau apalah namanya. Entah sebagus apa yang tengah berkuasa.

Sementara di negeri ini, 10 tahun berada di lingkar kekuasaan terasa kurang, maka mencoba mengakali rakyat dengan big data, dengan isu ini, isu itu.

Padahal logikanya, kalau memang merasa hebat, justru di Pemilu itulah ujiannya.

Kalau memang merasa mumpuni, buktikan di hasil Pemilu itu. Karena meski sang Presiden tak bisa mencalonkan diri lagi, bukankah arah sang Presiden akan diketahui kemana nantinya. Kalau rakyat suka, maka rakyat akan rame-rame bersama sang mantan mendukung. Kalau tidak, yah lewat.

Intinya, kalau memang merasa rakyat cinta dan menyukai, jangan konstitusi yang mau diakali. Tapi, justru jaga konstitusi.

Sekali lagi, bukankah kalau memang rakyat mencintai dan masih menginginkan, tak usah ditawar, rakyat justru akan datang meminta….


ENTAH apa yang terjadi dengan negeri ini.

Rakyat semakin dipertontonkan dengan kelakuan politikus dan elite bermuka badak, tidak punya malu, dan tak segan-segan ingin memanjangkan kekuasaan dengan berbagai cara dan menciptakan isu.

Lebih tragis lagi, setelah mengusulkan tunda Pemilu, kini ada pula yang siap-siap mencalonkan diri jadi Presiden.

Hari ini ngomong ini, besok ngomong itu.

Sungguh tak bermalu. Apakah mewmang kalau sudah berada di lingkar kekuasaan urat malu jadi putus?

Pada Tahun 2012 lalu, Ketua Umum Partai Buruh (PvdA) Belanda Job Cohen mengundurkan diri sebagai ketua partai, ketua fraksi, dan juga mundur sebagai anggota parlemen Belanda. Alasan Cohen, karena dia merasa gagal tidak bisa membangun partai sesuai dengan janjinya.

Presiden Jerman Christian Wulff, tidak punya rumah dinas dan rumah pribadi, juga mengundurkan diri karena dikritik meminjam uang resmi dan sah dari bank Jerman sebanyak EUR 500.000 euro dengan bunga rendah.

Namun bunga rendah itu dianggap sebagai bentuk penyalahgunaan jabatan. Wulff malu, lalu mengundurkan diri dari kursi empuk presiden pada Jumat (18/2/2012).

Sungguh berbanding terbalik dengan kelakuan elite politik di negeri ini.

Sekali lagi, jangan bandingkan dengan elite negeri ini.

Usai bicara soal usulan penundaan Pemilu berdasarkan big data, tanyakan mana big datanya, jawabnya cuma… ada….

Atau tanya sama yang namanya Big…

Begitu usulannya rame-rame ditolak termasuk oleh jajaran elite partai yang berkuasa, malukah sang pejabat itu?

Entahlah sudah memang jadi fenomena di negeri ini. Mereka yang berada di tempat-tempat terhormat, tapi sudah hilang kehormatan….***