oleh

Buruk Muka di Cermin Retak

babelpos

ALI Bin Abi Thalib menyatakan, jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu.

Oleh: Syahril Sahidir – CEO Babel Pos Grup —

BERHENTI berusaha menjadi seperti orang lain, karena itu hanya membuatmu tak menghargai dirimu sendiri.

Jadilah diri sendiri, agar kamu tak tersakiti oleh orang-orang yang kamu percayai.

Ketika seseorang yang sangat kamu percaya mendustaimu, ketahuilah bahwa kamu tengah belajar untuk lebih percaya pada dirimu sendiri.

Ketika sebuah kepercayaan dikhianati, hidup terasa demikian kejam, tragis, dan sadis. Namun, begitulah adanya. Terutama dalam dunia politik yang mau tidak mau mempengaruhi dunia birokrasi negeri ini.

Runtuh rasa-rasanya dunia ketika orang-orang yang selama ini begitu dipercaya ternyata malah berkhianat. Orang-orang yang selama ini mungkin sudah dijadikan tangan kanan, malah berbalik menampar muka diri. Dunia terasa tak adil, orang-orang terasa telah zholim. Tapi sekali lagi, inilah pelajaran, bahwa pada akhirnya kehidupan seseorang itu ditentukan oleh langkahnya sendiri, bukan oleh orang lain.

Hidupmu bukan tentang keinginan orang, tapi tentang keinginan mu sendiri.

—————

DALAM politik dan birokrasi di negeri ini, orang-orang kepercayaan yang patut dipercaya kadang malah memanfaatkan kepercayaan itu untuk sebuah pengkhianatan dan menusuk dari belakang. Kadang terkuaknya sebuah rahasia karena adanya orang-orang yang dipercaya justru telah berkhianat?

Inilah yang sangat menyakitkan.

Namun, ini juga pelajaran bahwa akhirnya kita harus belajar percaya diri sendiri.

Machiavelli menyatakan, kalau kita bicara politik, kita bukan sedang omong soal moral, kita sedang mengambil kekuasaan.

Lord Acton juga menegaskan, politik tetaplah politik. Dalam politik tidak mengenal kebenaran yang benar dan kesalahan yang salah. Semuanya perlu ‘diperjuangkan’ agar yang benar menjadi benar, dan kesalahan bisa ‘disiasati’ supaya ‘dibenarkan.’

Politik dan birokrasi adalah dunia yang selalu bicara kepentingan. Ketika kepentingan tidak terakomodir, maka pengambil kebijakan dijadikan lawan. Tapi ketika kepentingan tercapai, maka pengambil kebijakan disanjung dan dijunjung.

Kita jadi ingat Presiden RI yang paling nyeleneh KH ABdurrahman Wahid. Ia secara vulgar dan terang-terangan menyatakan memang sering berkunjung ke makam-makam orang shaleh untuk meminta petunjuk.

Ketika ditanya alasannya, Presiden kita yang cerdas dan nyeleneh ini memberikan jawaban yang cerdas dan nyeleneh juga;

Karena orang mati menurut Almarhum sudah tidak mempunyai kepentingan apa-apa seperti orang hidup. Inilah Gus Dur.

—————

”MENGAPA Anda sekarang berani menyerang atasan Anda?”

”Oh, ini bukan apa-apa, ini demi bangsaku!”

Padahal maksudnya, demi –bank– dan saku-nya…

—————

YAH, Orang yang sudah terlanjur ‘bercinta’ dengan dunia politik dan birokrasi sekarang ini seperti sudah sudah dihinggapi pemikiran negatif semata… Tak ada lawan yang abadi… tak ada teman yang abadi… yang ada cuma kepentingan…

Dalam politik dan birokrasi, dendam kesumat, prasangka, curiga, seolah menjadi begitu dekat. Tak boleh ada kekalahan apalagi penyerahan kepada setiap lawan politik.

Hadapilah politik itu dengan seni…
sehingga politik itu terasa indah…

Perkuat pula dengan agama…
agar tak ada dendam kesumat di dalamnya…

Belajarlah bijak pada diri sendiri.

Ketika diri tersingkir dari dunia politik dan birokrasi, bercerminlah.

”Oh, aku tersingkir bukan karena salah orang lain, tapi salah orang yang ada dalam cermin itu?”

Buruk muka cermin dibelah.***