oleh

Ikhlas, Tapi Ya Tolong Diingat?

babelpos

KETIKA berbuat baik dicurigai, jangan dibantah. Percuma, biarkan waktu yang menjelaskan. Karena negeri ini sudah terlanjur negeri pencitraan, sehingga orang yang benar-benar baik pun sulit dibedakan dengan yang pencitraan.

Oleh: Syahril Sahidir – CEO Babel Pos Grup —

BAGAIMANA waktu menjelaskannya?

Ketika perbuatan baik itu terus dilakukan tanpa peduli waktu dan momentum, berarti memang ikhlas. Tapi ketika berbuat baik itu hanya untuk target dalam momentum tertentu terutama momentum politik Pemilu dan Pilkada misalnya, itu pencitraan.

Bedanya lagi, berbuat memang semata-mata berbuat yang baik. Sementara pencitraan, kadang tak segan-segan memanfaatkan momentum apapapun, bahkan musibah sekalipun dimanfaatkan untuk pencitraan diri.


SYAHDAN, seorang politikus setengah baya yang tengah menjabat ditinggal mati oleh istrinya. Terlihat ia berurai air mata dan terus menangis.

Nah, para pendukung sang politikus pun memanfaatkan perilaku sang junjungan itu untuk kepentingan politik. Maklum.

Dengan piawainya para pendukung menyatakan bahwa sang politikus itu memang sangat sayang dengan istrinya. Meninggalnya sang istri tercinta adalah bagai separuh jiwa yang hilang.

‘’Karena karir dan semua yang telah ia raih tak lepas dari peran Ibuk…. (panggilan para pendukung ke istri sang politikus.red),’’ ujar sang pendukung ke orang-orang yang datang melayat.

Tak ada yang membantah, semua mengiyakan. Meskipun sebenarnya ada juga pelayat yang tahu kelakuan sang politikus di luaran apalagi ketika ke luar kota? Maklum, politikus dari negeri ini yang semua tahulah… dan semua tidak tahulah…. kelakuannya.

Ketika waktu pemakaman tiba, jenazah akan diberangkatkan, makin jadilah sang politikus itu menangis. Orang-orang pun rebutan menenangkan.

‘’Pak, apa ada pesan terakhir dari Ibu kepada Bapak?’’ ujar orang-orang menjelang keberangkatan ke pemakaman.

‘’Yah, memang ada. Dan saya sendirilah yang harus melaksanakan pesan terakhir itu…’’ ujar sang politikus tetap dengan sesenggukan.

Lalu, secara spontan sang politikus tadi melangkahi mayat sang istri tercinta seraya berujar: ‘’Maaf Mama, sesuai pesan Mama, jika ingin menikah lagi, langkahi mayat Mama dulu…. Kini, aku penuhi pesan terakhir Mama….’’ Ujarnya semakin keras menangis…

Tinggallah orang-orang yang tercengang… tangis sedihkah… tangis bahagiakah… entahlah.

Tangis di era sekarang agaknya memang sudah kehilangan makna.


KITA sering mendengar, seorang mubaligh berceramah tentang seorang istri yang rela suaminya menikah lagi dengan 3 syarat.

Pertama, harus mampu berbuat adil, baik keuangan, maupun waktu. Dan syarat ini rata-rata disanggupi oleh sang suami.

Kedua, tidak boleh ditambah lagi, cukup dua saja. Karena memang baru satu menjelang dua, syarat ini dengan gampang di-oke-kan oleh sang suami.

Syarat ketiga, dengan tetap tenang sang istri berujar, langkahi mayat aku dulu…. Sudah itu menikahlah…. Si suami terdiam seribu bahasa…..

Jadi politikus memang harus jadi si Raja Tega… Tak hanya memanfaatkan kematian kolega atau orang tercinta… Tapi memanfaatkan derita rakyat dengan hal yang tak seberapa.

Politik itu kejam. ***