oleh

Suara & Wakil Tuhan?

babelpos

DUA adagium yang membawa-bawa Tuhan dan kerap kita dengar dalam kehidupan bermasyarakat hingga sekarang, adalah dalam hal politik dan hukum.

Oleh: Syahril Sahidir – CEO Babel Pos Grup —

UNTUK politik, ada kata-kata Vox populi vox dei… Suara Rakyat adalah Suara Tuhan.

Lalu, untuk bidang hukum, kerap kita dengar bahwa ‘Hakim’ adalah ‘Wakil Tuhan’.

Untuk sisi hukum, memang dalam setiap keputusannya, majelis hakim sesuai Pasal 197 ayat 1 (a) KUHAP menyatakan bahwa setiap putusan pemidanaan wajib memuat kepala putusan yang berbunyi:

”DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA.”

Dan, di ayat 2 dari pasal yang sama menegaskan: Tanpa kepala putusan tersebut (dan juga butir lainnya dalam ayat 1), putusan tersebut batal demi hukum.

Demikian pula Undang-Undang (UU) Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman memuat hal yang kurang lebih sama. Dalam pasal 2 tentang asas penyelenggaraan kekuasaan kehakiman, ayat 1 berbunyi:

”Peradilan dilakukan ’DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA’.”

Apalagi, persyaratan menjadi hakim sebagaimana dicatat dalam UU 49/2009 pasal 14 ayat 1 (b) mengharuskan seorang calon hakim untuk:

”Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa”.

Karena itu, mau tidak mau, seorang hakim harus takut kepada Tuhan dan memenuhi tuntutan Tuhan akan keadilan ketika menjalankan tugasnya. Ini sangat mendasar, mengingat di meja hijau, hakim mempunyai otoritas penuh?

—————

PERTANYAANNYA, masihkah politik membawa Suara Tuhan dan juga Hakim Mewakili Tuhan?

Dalam demokrasi yang murni, seseorang yang terpilih menjadi wakil rakyat, menjadi kepala daerah, bahkan menjadi Presiden sekalipun, berhasil duduk di kursi empuknya karena suara mayoritas atau terbesar yang ia raih. Dan keberhasilan seorang politikus meraih ‘suara terbanyak suara Tuhan itu’, sudah berarti ada ‘legitimitasi spiritual’ di dalamnya.

Singkatnya, raihan atau keberhasilan itu adalah atas kehendak Tuhan.

Faktanya, masihkah ‘suara rakyat’ itu ‘suara Tuhan’ ketika saluran demokrasi itu diperoleh dengan amplop, mukena, sajadah, beras atau bentuk lainnya?

Demikian pula dalam hukum. Masihkah hakim sebagai garda terakhir masyarakat mendapat keadilan bisa dikatakan mewakili Tuhan, ketika vonis dijatuhkan bukan lagi berdasarkan fakta hukum? Tapi berdasarkan dendam kesumat, naluri kepentingan, atau karena ada apa-apanya?

—————

INI mungkin gambaran sekelumit di negeri ini. Dan ini pula yang menjadi sumber masalah sehingga melahirkan negeri selalu bermasalah.

Seorang politikus yang meraih kemenangan atau suara terbanyak selalu berujar dengan bangga dan tanpa beban apalagi rasa berdosa akan menyatakan: Kemenangan ini adalah kemenangan rakyat, semua ini atas izin Tuhan…

Begitu mulai menjabat lihatlah sang politikus jangan kan turun melihat rakyat, menoleh pun tidak. Maklum, kalkulasi hitung-hitungan belum kembali?
Rakyat tak berkutik, karena suara sudah terlanjur dibeli.

Begitu juga hukum di negeri ini. Rakyat memahami bahwa keputusan majelis tidak bisa diganggu gugat, hanya saluran hukum untuk menyatakan ketidakpuasan itu memang ada.

Tapi, adakah naluri dan hati terbebani ketika berucap vonis:

”DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA.”

Apakah adagium, “Lebih baik membebaskan seribu orang yang bersalah daripada menghukum satu orang yang tidak bersalah.” masih benar-benar dijalankan, ketika fakta hukum diabaikan atau vonis malah kebalikan dari adagium itu?

Bukankah dalam hukum itu juga ada adagium: Fiat justitia ruat caelum, Hendaklah keadilan ditegakkan, walaupun langit akan runtuh.

—————

TERKADANG politik dan hukum di negeri ini memang seperti ‘Tak Ber-Tuhan’. Tuhan diabaikan ketika berbicara untuk tujuan politik dan kepentingan atas hukum? Tuhan hanya dianggap ada ketika ibadah saja….

Namun satu hal yang penting, berarti semua sepakat Tuhan itu ada….

Bahkan terkadang Tuhan datang mengetuk pintu? Tapi kita yang terlalu sibuk sehingga tak mendengarnya?

Lalu, bagaimana dengan kekotoran yang terjadi dalam politik dan hukum yang kerap, tengah, bahkan akan terjadi?

Tuhan itu ada,
Tuhan tidak tidur,
Tuhan punya cara
Tuhan takkan diam…
Tuhan…. Tunggu? ***