oleh

Aok Dak Betitik

babelpos

Oleh: AHMADI SOFYAN – Penulis Buku/Pemerhati Sosial Budaya —

DI era modern seperti sekarang ini, jangankan jadi ini jadi itu, jadi manusia yang bisa menepati janji saja butuh perjuangan!

ADIK-Adik mahasiswa bahkan keluarga besar saya kerapkali menanyakan soal cita-cita saya atau keinginan saya untuk jadi apa nantinya. Sebuah pertanyaan yang umumnya saya jawab jadi “manusia seutuhnya”. Wong sedari dulu entah kenapa saya ini tidak pernah punya cita-cita khusus apalagi untuk jadi ini jadi itu sebagaimana manusia modern atau orang kuliahan dan sarjanawan pada umumnya. Karena saya takut berjanji bahkan untuk diri saya sendiri tidak berani alias terlalu pengecut.

Menjadi penulis juga bukan cita-cita, karena saya tidak pernah belajar khusus, kursus, diklat, ikut seminar penulisan atau menempuh pendidikan untuk menjadi seorang penulis. Makanya tulisan ala saya sendiri (sekenek perot) seperti ini dan tidak akan pernah diterima oleh kaum akademisi yang menjejali tulisan mereka dengan bahasa ilmiah serta aturan-aturan penulisan yang hebat.

Persoalan janji bukanlah persoalan kecil, karena itu dalam Islam janji itu begitu sangat diperhatikan sehingga janji dianggap sebagai hutang piutang yang wajib dibayar dan akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. Sedangkan zaman sekarang begitu banyak bertebaran janji-janji yang berlomba-lomba mengalahkan sang ahli janji, Dajjal laknatullah. Sehingga dalam pemahaman saya hidup di era seperti ini, untuk menjadi manusia yang bisa menepati janji saja perlu perjuangan.

Manusia-Manusia “Aok”

BEBERAPA tahun silam, saat masih nyantri di Pondok Pesantren Modern Al-Barokah Kertosono Nganjuk Jawa Timur, oleh pak kiyai dan asatidz, kami para santri yang berasal dari Pulau Bangka seringkali disebut “orang aok”. Bukan tanpa alasan panggilan tersebut diberikan, dikarenakan saat ngobrol sesama orang Bangka, kami seringkali mengucapkan kalimat “aok” dalam obrolan. Sehingga kalimat tersebut menjadi akrab terdengar dan gampang ditiur oleh Pak kiyai, asatidz dan kawan-kawan santri dari daerah lain di Indonesia.

Kalimat singkat “Aok” yang setiap hari kita dengar dalam obrolan masyarakat Bangka bermakna “iya”. Sedangkan “Aok Dak Betitik” seperti judul diatas adalah sindiran bagi sebagian orang Pulau Bangka terhadap perilaku orang-orang yang gampang mengumbar janji tapi sangat sulit untuk ditepati. “Aok Dak Betitik” ini umumnya laris manis saat menjelang Pemilu, Pileg dan Pilkada. Bahkan dikalangan pergaulan dan juga dalam sanak keluarga pun kerapkali kita menemukan sosok yang berperilaku “Aok Dak Betitik”, atau jangan-jangan sosok itu adalah diri kita sendiri.

Perilaku “aok dak betitik” ini akan menimbulkan sikap antipati bagi orang lain atau dalam tutur masyarakat Bangka akan menimbulkan sikap “gerigit ati” bagi orang yang terkena dampaknya. Sikap menggampangkan dengan kalimat singkat “iya” ternyata harus tetap dipertanggungjawabkan oleh sang pengucapnya. Ya, hanya kalimat “iya” bisa memiliki dampak besar baik dampak kemaslahatan maupun kemudhoratan. Tentunya ini akan dipertanggungjawabkan dihadapan umat (rakyat) maupun Allah SWT.

Jika kalimat “iya” atau “aok” saja berdampak besar dan ada pertanggungjawabannya, apalagi berpuluh-puluh bahkan berratus-ratus kalimat yang kita keluarkan baik lisan maupun tulisan. Jadi “meng-aok-kan” atau “mengiyakan” sesuatu memiliki dampak yang sangat besar, apalagi seorang Kepala Daerah yang memiliki peran penting bagi kemaslahatan umatnya dengan tanda tangannya atau janji lisannya. Bukan hanya saat ini, tapi dampak bagi generasi-generasi berikutnya. Ternyata hanya satu persoalan “aok” atau “iya” ini sangat panjang sekali urusannya.

Jangan membiasakan diri dalam bersikap “aok dak betitik” alias mengumbar janji yang tak ada jaminan untuk dapat kita penuhi. Walaupun era sekarang adalah era bermanis ria dimuka pahit hasil dibelakang, atau bermain kata di media tapi buruk hasil kala berjumpa. Sudah terlalu sering dan sering banget janji “kemakmuran”, “kesejahteraan”, “peningkatan ekonomi” diperuntukkan untuk rakyat kala mencalonkan diri, tapi ketika sudah jadi, ternyata kemakmuran, kesejahteraan dan peningkatan ekonomi tersebut ternyata menjadi kenyataan, tapi untuk diri sendiri dan keluarganya.

Saya masih ingat betul, saat masih belum lama kembali dari perantauan, seorang pejabat pernah saya kasari dengan kalimat: “Anda ini sudah jadi Pejabat tapi antara nguap dan kentut masih nggak ada bedanya!”. Itu bahasa kasar ala saya sebagai pengganti dari kalimat “aok dak betitik!”, tapi jangan diikuti aok……?!

Salam Aok! (*)