oleh

Ase Nek…

babelpos

Oleh: AHMADI SOFYAN – Penulis Buku/Pemerhati Sosial Budaya —

MELIHARA Ikan Toman dalam Kolam Ikan Nila. Begitulah istilah dari menjamurnya Ritel di setiap sudut Kota Pangkalpinang dilain sisi teriak menumbuhkan UMKM dan kemajuan ekonomi produk lokal. Ase nek nyarot!

——————-

RASANYA sudah puluhan orang yang komunikasi sama saya curhat tentang banyaknya toko ritel modern berdiri dimana-mana di Kota Pangkalpinang. . Bahkan di Perumahan dimana saya tinggal pun kokoh berdiri 2 buah dengan gagah secara berdekatan. Dibelakangnya berdiri toko milik penduduk lokal yang akhirnya nampak kembang kempis.

Seorang anak muda yang pernah bekerja di toko ritel modern bahkan pernah mendapat posisi lumayan tinggi bercerita banyak diteras rumah saya tentang strategi mematikan toko kecil milik rakyat lokal dengan berdirinya toko ritel modern. Rasa “gerigit ati” plus mulut terpaksa “nyarot” saat itu juga.

Kepada anak muda itu, saya katakan bahwa saya tidak memiliki suara apapun, sebab saya bukan Wakil Rakyat yang diberi amanah untuk bersuara. Paling saya ini hanya menulis di media, itu pun kalau lagi mood mau menulis. “Yang pasti minimal saya “nyarot”, Bro!” ujar saya disambut tawa anak muda ini.

“Nyarot” adalah tutur lisan orang Bangka yang bermakna menumpahkan kalimat kasar yang tak elok didengar akibat kekesalan yang memuncak. Kalimat kasar itu memiliki beberapa jenis, termasuk menyebut nama-nama binatang, terutama binatang haram dikonsumsi seperti Anjing & Babi. Juga “nyarot” bagi masyarakat kampung di Pulau Bangka umumnya menyebut kelamin. Ini biasanya sudah jenis “nyarot” yang cukup parah dan ngeselin. Lantas, nyarot jenis apakah yang saya ucapkan ketika bicara tentang ritel modern yang akhir-akhir ini bejibun di kota dan tiba-tiba pemerintah baru mau buat zonasi? Pokoknya ada deh. Ente mau tahu aja?!

Sakit Menimpa, Sesal Terlambat

SETELAH menjamurnya ritel (minimarket) bejibun dimana-mana, kini Pemerintah bilang mau buat zonasi.

Ini menurut saya sangat konyol, lucu dan benar-benar “ase nek nyarot!”. Apalagi dalam beberapa pemberitaan beberapa waktu lalu bahwa didukung oleh ulama’. Ulama’ yang mana pula? Kok main dukungan yang beginian?. Lagian yang beginian itu jangan Ulama’ yang diberi porsi, tapi ahli ekonomi, pelaku usaha, orang yang memahmi budaya kearifan lokal (agar tidak basing terabas dan sekenek perot).

Padahal sebagai Pemerintah harusnya sudah tahu bahwa berkembang pesatnya ritel modern pasti akan menimbulkan potensi persaingan usaha yang kurang sehat dan sangat-sangat berpotensi mematikan sektor ritel tradisional jika tidak diatur dengan jelas serta tegas. Contoh kecil, menurut Adhi Yos Perdana (Ketua Umum HMI Babel Raya) dalam tulisannya di harian ini (Babel Pos) “Fallacy Kartel vs Menjamurnya Ritel” bahwa berdasarkan catatan Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), di DKI Jakarta sebanyak 30 gerai ritel dianggap melanggar kebijakan zonasi ritel dalam Perda DKI Jakarta No.2 Tahun 2002.

Akibat pelanggaran tersebut, setidaknya 75 ritel tradisional gulung tikar, minimal omset turun sebesar 35 persen dari tahun ke tahun.

Saya yakin, kedepan akan terjadi (sudah mulai terjadi) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, terutama Kota Pangkalpinang, akan menggeser bahkan sedikit demi sedikit menenggelamkan posisi retail-retail tradisional milik masyarakat kecil (Lokal) yang sangat menunjang ekonomi kerakyatan di karenakan proses transaksi tawar menawar dan harga ditentukan begitu “apik”, silaturrahim luwes, masih berbudaya dan tidak diatur secara komunal sebagaiman ritel modern.

Bakalan terjadi kesedihan dan kekesalan kedepannya, para pedagang-pedagang tradisonal, pedagang kecil, pedagang lokal, akibat kehilangan pelanggan bahkan pada akhirnya lapak ikut terdepak. Sedangkan masyarakat elit merasa terbantukan dengan adanya swalayan tersebut, tapi ribuan masyarakat kecil menengah ke bawah, akan menjadi pembantu di rumah sendiri. Jangan bicara “buka lapangan kerja” masyarakat lokal, itu hanya sekedar dan benar-benar jadi jadi tukang stempel harga dan pengucap selamat datang. Haruskah bangga menjadikan rakyat lokal jongos di negerinya sendiri?

Hadirnya ritel modern itu sah-sah saja, namun penting dilakukan Pengaturan Zonasi sejak awal sebelum menjamur seperti sekarang ini. perjanjian zonasi dan peraturan hadirnya gerai-gerai retail kapitalis seperti Alfamart, Indomart, MCD, Pizza Hut dan sebagainya harus diatur sedemikian rupa oleh pemegang wewenang dan tidak boleh menjamur “sak enak udel e dhewe” dan pemberi wewenang bahagia karena mungkin “ada apa” dibalik gerai-gerai tersebut.

Wakil Rakyat, Bersuaralah!

ADANYA Pemerintah adalah untuk mensejahterakan rakyat, bukan sebaliknya. idealnya yang dibangun oleh Pemerintah Daerah itu adalah ekonomi kecil menengah bukan malah menarik para retail-retail kapitalis yang menancapkan jari-jari tajamnya dengan frenchise-frenchise dak keruan jatak bagi pertumbuhan ekonomi rakyat lokal.

Janganlah hidup ini terlalu lama “seakan-akan” tapi nyatanya sedikit demi sedikit rakyat kecil terpinggirkan. Janganlah terlalu lama pencitraan seakan-akan putih padahal hitam, seakan menunjukkan gerbang sorga, padahal yang ditunjukin gerbang neraka, seakan-akan senyum tapi “merteng”, seakan-akan sholeh tapi salah, seakan-akan merangkul tapi memukul, seakan-akan memuji tapi mencaci, seakan-akan argument sebenarnya sentiment. Hidup mbok ya jangan kebanyakan “seakan-akan”.

Pun demikian, keberadaan Wakil Rakyat harusnya bersuara lantang serta memberikan dampak langsung atas keberadaannya karena diberikan amanah yang sangat besar untuk rakyat. menjamurnya ritel modern di negeri ini, sepertinya Wakil Rakyat sangat tidak peka sama sekali, sebab masa Pemilu masih sangat lama. Ada beberapa komentar kecil dari Wakil Rakyat, tapi seperti sekedar seremonial saja alias asal nguap tanpa menunjukkan kwalitas diri sebagai wakil rakyat dan kaum intelek.

Rakyat adalah ibumu dan kekuasaan itu adalah mata pisau. Kalau dipegang oleh orang beriman dan berakhlak, paling korbannya leher ayam, tapi kalau dipegang orang “seakan-akan” beriman dan seakan-akan berakhlak, maka jangankan leher ayam, leher teman jadi korban.

So, jangan ada lagi kalimat: “Ikak nek mati-mati-lah” dari mulut penguasa eh pejabat! Soalnya kedengerannya nggak enak, kami rakyat kecil “ase nek nyarot!”.

Salam Nyarot! (*)