oleh

Bedarup

babelpos

Oleh: AHMADI SOFYAN – Penulis Buku/Pemerhati Sosial Budaya —

BEDARUP luk, biar pandangan jelas! Biar “belek” di mata sedikit bersih, jadi enak dipandang dan memandang! Sehingga nggak salah menilai! “Bedarup” luk, baru tabayun!

——————

WALAUPUN mengemas diri pakai jubah, make up tebal, serta dipanggil Tuan Guru, Kiyai, Buya, Ustadz, Santri, Pendeta, Pastor, Direktur, Rektor, Menteri, Kades, Camat, Bupati, Gubernur, Komisaris dan Presiden, penjilat, penjahat hingga penjahit sekalipun, tapi kalau bangun tidur “dak bedarup” tetap tak enak dipandang apalagi memandang dengan mata penuh “belekan” (tai mata), lantas langsung memberikan penilaian serta memberikan keputusan. Ini yang sering saya ungkapkan pada kawan-kawan muda saya yang tak sibuk dengan gelar apapun, dalam menata kehidupan sosial dan pandangan. Maklum, saya paling senang dan bahagia dekat dengan mereka yang tak punya gelar sosial apapun di dunia ini.

Jangan pernah memandang orang dengan gelar, sebutan, atau apapun itu! Makanya sebelum (semoga tidak pernah) mendapat gelar apapun di dunia ini, saya menggelari diri saya dengan panggilan “Atok Kulop” saja, karena itu besar makna bagi saya pribadi (untuk orang lain malah negatif, karena kalimat “Kulop”-nya). Gak ada itu buat saya panggilan Ustadz, Buya, Kiyai, Ulama, Umara’ Akademisi, Boss, Juragan, Angkatan Darat, Lintah Darat, Buaya Darat, Tuan Guru, Sopir, Ajudan, Kuli, Tokoh atau apalah itu.

Sedangkan Penulis Buku adalah sekedar hobi yang kadangkala kalau lagi kepengen, ya jadi profesi. Kolomnis di berbagai Koran, terutama di Babel Pos juga sekedar hobi dan memenuhi janji, bukan profesi atau pekerjaan. Lantas pemerhati sosial dan budaya juga bukanlah gelar sama sekali. Wong aku ini kadang ada waktunya anti sosial alias tidak mau berhubungan dengan siapapun, termasuk menghilang dari bersosial dari anak dan isteri. Budayawan? Wong aku ini seringkali nggak berbudaya kok! nyarot, marahin orang, ngajak berkelahi, bahkan melawan orang yang bergaya “alim” saja saya sering kok! apalagi cuma melawan pejabat plus bergaya pejabat?!