oleh

Mucak Pariwisata, Pasca Corona

babelpos

Tak hanya itu, perkebunan, peternakan dan budi daya ikan bisa menjadi destinasi wisata yang membuat wisatawan dapat menikmati alam. Bagaimana mendapatkan madu dari sarangnya, menginap dan menikmati alam ditepian sungai yang jernih. Tentunya ini semua melibatkan masyarakat agar wisatawan tidak hanya sekedar “gi nengong” alias cuma pergi melihat, tapi mereka harus benar-benar menikmati “what to do” agar “what to taste” benar-benar berkesan.

Promosi Sosial & Digital
AGAR para wisatawan ini mendapatkan “taste” serta eksistensi kelompok atau komunitas mereka, maka perlu dikonsepkan juga wisata sosial dan digital. Apa itu? It’s true my idea! Wisata sosial dan digital yang saya maksud adalah bagaimana mereka yang berkelompok atau komunitas dalam berwisata dapat merasakan kehidupan sosial masyarakat di daerah yang mereka temui. Misalnya dengan melakukan kegiatan “berbagi” (ada tehnik tersendiri) serta setiap kegiatan selalu terdokumentasi secara professional dalam jejak digital. Lantas pastinya menjadi bahan promosi global melalui youtube.

Bagaimana membuat kempelang, kerupuk, kritek, rusip, otak-otak, thew fu shui, pantekuk, lempah darat, mancing udang, melukis tudung saji, bawa dulang (nganggung), lempah kuning dan sebagainya, adalah hal yang sangat bisa kita jual di panggung pariwisata. Selain itu, wisata yang dibentuk per-cluster menjadi sangat penting agar semuanya bisa terkonsep serta tidak menumpuk. Nah, bagian ini perlu tulisan tersendiri.

Intinya, bagi saya, Pariwisata Bangka Belitung masih sangat lemah dalam karakter dan budaya. Perlu ruang diskusi dan cepat “digawi” bagaimana mengkonsepkan agar lebih matang pariwisata yang berbeda, berkarakter, ada nilai budaya dan kearifan lokal, memanfaatkan alam yang ada, promosi yang justru menguntungkan bukan mengeluarkan uang besar dan pastinya tak perlu meniru banget dengan daerah lain, karena percaya, soal otak, kita orang Bangka Belitung ini ada 2 jenis otak, yakni “Otak-Otak” dan “Berotak”.

Nah kan?, akhirnya bicara pariwisata, seringkali membuat hati saya dongkol. Tapi menulis tentang Pariwisata, dongkol saya terlampiaskan walau belum puas walaupun tulisan ini kejar tayang akibat Koran sudah mau naik cetak. Dongkol-kan? Sama!
Salam Dongkol!(*)