oleh

Mucak Pariwisata, Pasca Corona

babelpos

Oleh: AHMADI SOFYAN
Penulis Buku / Pemerhati Sosial Budaya

KALAU Bangka Belitung berpikir Pariwisata itu hanyalah “menjual” pantai, itu pola pikir yang sangat dangkal. Nilai budaya dan kearifan lokal yang tidak kokoh, sehingga tidak berkarakter adalah salah satu penyebab penghambat pariwisata kita.

———————

BICARA pariwisata, seringkali membuat hati saya dongkol. Walau bukan siapa siapa dan tidak pernah sekolah pariwisata, tak pernah diajak ngobrolin pariwisata, tak berhubungan dengan orang-orang pariwisata, pokoknya untuk saya, bagian yang nggak banget deh. Lagian siapa pula yang membutuhkan saya?! Tapi entah kenapa sebagai orang kampung yang dianggap sok tahu, saya sering dongkol dengan berbagai konsep pariwisata pemerintah daerah.

Eh, ngomong-ngomong memang pemerintah ada konsep Pariwisata? Bukankah selama ini Pariwisata bukan konsep Pemerintah Daerah, tapi konsep pelaku pariwisata? Nah, kan? Saya benar-benar sok tahu!

Wisata Alam & Sosial
SALAH satu kekayaan besar Indonesia adalah alamnya berupa hutan, sungai, pegunungan dan segala satwa yang ada didalamnya. Begitupula dengan Bangka Belitung yang walaupun kondisi air baik laut maupun sungai sudah kian butek. Bumi Bangka Belitung, selain mengandung berbagai elemen yang berupa kekayaan luar biasa, juga diatas bumi tumbuh berbagai jenis pohon, hidup didalamnya flora dan fauna serta di laut juga sungai berbagai jenis ikan
serta udang yang kesemuanya adalah anugerah yang sangat luar biasa dilimpahkan Tuhan Yang Maha Esa.

Pasca Corona (Covid 19), wisata adalah pilihan masyarakat perkotaan, terutama pilihan masyarakat perkotaan terutama Metropolitan. Mengobati kesumpekan, kejemuan yang teramat sangat, mereka butuh refreshing, namun tetap mengutamakan social distancing dan physical distancing. Oleh karenanya, wisata alam adalah pilihan yang akan dilakukan masyarakat Perkotaan. Pulau Bangka & Belitung, jika dikonsepkan dan dikemas, bisa menjadi pilihan utama pasca wabah Corona ini. Hanya saja, sampai detik ini wisata yang kita tunjukin ke masyarakat luar hanya mengandalkan pantai semata dan kunjungan wisatawan tanpa melakukan apa apa.

Saya rada “gila” plus norak ini, kadangkala berpikir bagaimana para wisatawan jangan hanya disuguhkan what to see (apa yang dilihat), tapi what to do (apa yang dilakukan) selama berwisata di Pulau kita. Sangat memungkin rasanya para wisatawan diajak berpetualang ke Pulau-Pulau yang ada, diajak muket, mancing dari perahu maupun pinggiran, mancing di bagan, lantas masak lempah kuning, yang tentunya kesemua itu ada yang melayani secara professional.