oleh

Polda Usut Dugaan Tipikor Pembiayaan Petani Ubi Air Gegas, Duit LPDB Lewat BPRS

babelpos

* Rully: Itu Limpahan OJK
* Aang: Iya Saya Pernah Diperiksa Polda, Nanti Saya Hubungi….
* Dirut BPRS: Kita Dukung dan Apresiasi Polda Babel

BANK Pembiayaan Rakyat Syariah Bangka Belitung (BPRS Babel), bagai tak putus dirundung masalah. Setelah mencuat kasus dugaan Tipikor oleh mantan Kepala Cabang di Muntok Bangka Barat (Babar) –bahkan Kejari sudah menetapkan tersangka–, kini mencuat lagi kasus di Bangka Selatan (Basel) dengan nilai diperkirakan mencapai belasan miliar.

———————

KASUS ini ditangani Polda Bangka Belitung (Babel) yang merupakan limpahan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Kasubdit Tipikor Polda Babel, AKBP Rully Tirta Lesmana, membenarkan adanya penyelidikan tersebut. Diakuinya, kasus tersebut merupakan limpahan dari OJK.

“Itu temuanya OJK dilimpahkan ke kita untuk dilidik. Saat ini kita sedang melidik dengan mengumpulkan data-data dan informasi, kita juga akan meminta lembaga audit untuk melakukan penghitungan,” kata Rully singkat.

Kasus Tipikor ini menyangkut dana pembiayaan petani dari BPRS. Pembiayaan tersebut dikucurkan kepada sekitar 300 petani Air Gegas Basel untuk bertanam ubi Casesa diantaranya berlokasi di seberang KUA Air Gegas. Adapun sesuai akad kredit, setiap petani memperoleh pinjaman kredit sebesar antara Rp 20 juta hingga Rp 200 juta. Agunan dari pihak petani sendiri atas pinjaman tersebut berupa surat tanah dengan SKT Camat.

Dia juga mengatakan, sudah ada beberapa pihak terkait diantaranya koordinator petani, bernama Al Mustar als Aang yang telah diperiksa penyelidik. Begitu juga dengan beberapa petani selaku penerima bantuan kredit itu juga telah diperiksa.

“Ada beberapa sudah kita periksa. Kita butuh keterangan mereka dalam rangka penyelidikan ini,” lanjutnya.

Dimana Penyelewengannya?
Sementara itu, dari hasil penelusuran harian ini, dana yang dicairkan oleh pihak BPRS itu sendiri bersumber dari LPDB (Lembaga Pengelola Dana Bergulir). Sementara dugaan korupsi ini bermula usai dari pihak BPRS melakukan pencairan kepada 300 petani, koordinator Mustar als Aang melakukan pengumpulan dana langsung kepada pihak petani tersebut. Peruntukan dana dengan alasan untuk melakukan line clearing diantaranya untuk pembukaan lahan pertanian ubi. Puncaknya, dari pengumpulan dana yang terjadi itu para petani akhirnya hanya memegang uang senilai Rp 5 juta saja.