oleh

Pintar Dak Ngajar, Budu Dak Belajar

babelpos

Oleh: Ahmadi Sofyan
Penulis Buku / Pemerhati Sosial Budaya

Ade kepala tapi
dak ngegigit…
Ade kitok tapi
dak ngelilit…

-Pepatah Urang Bangka-

—————-

ORANGTUA kita dulu tak mengenyam pendidikan tinggi, tak ada titel didepan dan dibelakang namanya seperti kebanggaan semu dan kerdil orang-orang modern masa kini, pengetahuan yang didapatkan dari alam dan lingkungan, pekerjaan yang ia geluti berkaitan dengan bercocok tanam yang berhubungan langsung dengan tanah dan air (alam), bahkan banyak di antara mereka buta teori sastra, buta aksara, buta angka atau buta huruf latin namun tak buta mata hati.

Kedewasaan yang berbuah kebijaksanaan dari perilaku sehari-hari para orangtua kita dulu kian hari kian lentur bahkan luntur bak sarung murahan ditengah kehidupan serba modern dan instan seperti sekarang ini. Orang tua kita dulu tak sekolah, tapi berperilaku pendidik, tak banyak bicara, tapi memberikan teladan dalam kehidupan nyata. Bahkan mereka tak banyak maunya karena begitu perasa. Mereka lebih pintar merasa bukan merasa pintar atau bisa merasa bukan merasa bisa.

Petuah-petuah orangtua begitu berisi dan penuh makna dalam kehidupan, seperti jauh berbeda dengan petuah-petuah orang pintar di era modern seperti sekarang ini. Karena petuah yang mereka sampaikan dari bibirnya adalah kata hati mereka sendiri, bukan sekedar mengumbar atau mengutip rangkaian kata-kata indah bak sastrawan atau budayawan kenamaan. Para orangtua kita dulu tidak pintar secara akademisi, namun mereka mengajar sekaligus mendidik diri, anak dan cucu serta lingkungannya di balik kelembutannya dalam kata dan sindirian yang terungkap secara lisan.

Orangtua kita dulu di kampung-kampung adalah manusia bijaksana yang perilaku dan ucapannya penuh dengan makna dan nilai-nilai kehidupan. “Air Beriak Tanda Tak Dalam”, “Ada Udang di Balik Batu” “Air tenang Menghanyutkan” “Air Susu di Balas Air Tuba” “Adat Pasang Berturung Naik” “Hati Gatal Mata Digaruk” dan ratusan istilah lainnya yang kita sebut pribahasa. Di kampung kita dulu, jika melihat seseorang yang berlagak pintar dan banyak bicara (koar-koar), menyombongkan diri dan selalu menjelek-jelekkan orang, memiliki pendidikan tinggi, namun tak banyak bermanfaat bagi orang lain, maka para orangtua zaman dulu cukup nyeletuk dengan kalimat sindiran singkat: “Pintar dak ngajir budu dak belajir” (pintar nggak ngajar, bodoh nggak belajar).