oleh

Normal tanpa New

babelpos

Oleh: AHMADI SOFYAN
Penulis Buku / Pemerhati Sosial Budaya

“NEW Normal” itu sudah berjalan lama kok, yakni ketika banyak hal yang “abnormal”, “ora umum” dan hal yang tabu sudah menjadi hal yang biasa, dibela & didukung banyak orang sebagai sesuatu yang normal.

—————–

LAGI, setelah sekian puluh atau bahkan ratusan istilah, kembali Pemerintah kita menggunakan istilah baru dan ini benar-benar baru lho, ditambah lagi menggunakan kalimat “new” pula. Walaupun istilah “new normal” ini awalnya adalah jargon dalam dunia ekonomi dan bisnis yang mengacu pada pembuat kebijakan dunia bahwa ekonomi industri akan kembali ke “cara baru” setelah dihantam krisis keuangan pada tahun 2007-2008.

Sedangkan istilah “new normal” di Indonesia muncul setelah Sang Presiden menegaskan masyarakat harus bisa berkompromi, hidup berdampingan dan berdamai dengan Covid 19 setelah sebelumnya menggunakan istilah “perang” melawan Covid 19. Ternyata akhirnya bendera putih pun dikibarkan dan bertuliskan “new normal”.

Berbagai pihak pun merancang skenario New Normal dalam menghadapi kehidupan ditengah pandemi covid 19 ini.

Memang, ketika wabah covid 19 melanda dunia sejak akhir tahun lalu dan sampai sekarang belum pulih, berbagai negara mengunakan istilah ini untuk mengimplikasikan bahwa suatu hal yang sebelumnya dianggap abnormal menjadi umum. Dari mulai salaman pakai siku, salaman jarak jauh, selalu cuci tangan, pakai masker hingga tidak berkerumunan. Padahal dulu ada perempuan pakai cadar, sudah dibuat heboh dan dianggap abnormal. Sekarang dipelosok mana pun kita menyaksikan masker dipakai dimana-mana. Bagi masyarakat global, pandemi ini telah memukul jutaan umat manusia ke jurang kehidupan yang sama sekali lain, bahkan asing bagi dirinya sendiri. Itulah corak kehidupan “abnormal”.

Tapi, untuk Indonesia, ditengah puncak pandemi, “new normal” jangan sampai akhirnya menjadi abnormal dan nyawa rakyat Indonesia menjadi uji coba sehingga membuat permasalahan baru bagi negeri tercinta. Lagi-lagi, negara kian rumit persoalannya, hutang kian menumpuk dan rakyat selalu terkorbankan.

Abnormal
“NEW Normal” itu sebetulnya sudah berjalan lama kok, bukan disaat pandemic covid 19 ini saja. Tapi ia sudah lama berada ditengah-tengah kehidupan kita, yakni ketika banyak hal yang “abnormal”, “ora umum” dan hal yang tabu sudah menjadi hal yang biasa, dibela & didukung banyak orang sebagai sesuatu yang normal.

Karena, di era modern sekarang ini, dalam kehidupan sosial, politik, pemerintahan dan berbagai lini kehidupan seringkali kita jumpai hal yang awalnya abnormal menjadi new normal alias kebiasaan baru. Hal yang dulu tabu menjadi kebiasaan ditengah masyarakat kita. Sesuatu yang dianggap “ora umum” menjadi umum. Bahkan diberikan tempat, diwadahi serta diberikan apresiasi.

Dulu, setiap habis Maghrib kita melihat anak-anak kecil bergerombloan pergi ke rumah guru ngaji, tapi sekarang guru ngaji yang harus mendatangi murid ke rumah rumah. Dulu seorang guru itu digugu dan ditiru, sekarang digugat dan ditinju. Dulu pemimpin itu memiliki kharisma dan wibawa ditengah rakyatnya, sekarang entah kemana si kharisma dan si wibawa itu berada. Dulu selepas maghrib kita terbiasa mendengar suara anak-anak mengaji, tapi sekarang kalah dengan suara televisi dan mainan game di handphone.

Dulu, di negeri ini “ora umum” Ulama dihujat dan dicaci maki, tapi sekarang menjadi sangat umum dan sangat biasa bahkan anak kemaren sore berani menghujat. Dulu agama benar-benar tidak layak dijadikan bahan candaan, sekarang malah diberikan panggung dan dijadikan lelucon. Dulu sangat “ora umum” pemerintah membuat keputusan mencela-mencele, tapi sekarang sudah sangat biasa sekali. Dulu orang rajin jama’ah ke Masjid dianggap orang sholeh, sekarang diposisikan sebagai orang salah. Dulu pemerintah mengutamakan pasar tradisional, sekarang menjadi duta mall.

Dulu, sesuatu yang dianggap “abnormal” wanita memperlihatkan bentuk tubuhnya, namun sekarang malah sengaja dipamerkan bahkan diviralkan serta ditambah dengan goyang tik tok di medsos. Dulu, perceraian itu sesuatu yang ditutup-tutupi karena dianggap aib, sekarang sudah umum belum resmi cerai sudah diberitakan ramai-ramai. Dulu urusan ranjang sangat tabu untuk dibicarakan, sekarang malah diberikan panggung. Dulu, bulan Ramadhan diisi dengan tadarusan dan pengajian, sekarang malah dibuatkan panggung konser musik.

Ah, sudahlah. Mau normal maupun abnormal, tergantung sisi pandang pribadi dan perubahan dimulai dari diri sendiri. Menjadikan kebaikan sebagai kebiasaan dan keburukan yang selama ini menjadi kebiasaan hendaknya mulai ditinggalkan. Mislanya mencela-mencele, tidak tepat waktu, ingkar janji, umbar kebohongan, melakukan pelanggaran, tidak taat, agama hanya simbol dan sebagainya. Semua kita ingin hidup menjadi lebih baik dan menjadikan kebaikan adalah kebiasaan. Itulah normalnya kehidupan yang tanpa harus dikasih embel-embel “new”.
Intinya, saya sangat setuju dengan ungkapannya Sudjiwo Tedjo, “Jangan sampai New Normal ini me-New-sahkan rakyat apalagi me-new-dutkan wong cilik”. Tapi…, jangan-jangan me-new-sahkan rakyat dan me-new-dutkan wong cilik itu juga termasuk new normal juga ya?”
Salam Normal?!(*)