oleh

Uang Alot

babelpos

Misbakhun sudah pada puncak pemikirannya: cetak uang sebagai sapu jagatnya. Ia mengaku sudah mendalami pilihan-pilihan lain. Semuanya jelek dan lebih jelek. ”Saya tahu cetak uang itu tidak bagus. Tapi pilihan lain lebih jelek lagi,” katanya.

Misalnya soal inflasi itu. Ia tahu persis cetak uang itu akan mengakibatkan inflasi. ”Tapi janganlah menjadikan akibat buruk cetak uang di tahun 1956 sebagai argumentasi,” katanya. ”Apalagi menyebut-nyebut pula Zimbabwe,” tambahnya.

Menurut Misbakhun skala ekonomi kita saat ini sudah tidak bisa disamakan dengan tahun 1956. Apalagi dengan
Zimbabwe.

”Memang akan terjadi inflasi,” katanya. ”Tapi kalau kenaikan inflasinya bisa dihitung mitigasinya bisa disiapkan,” katanya.

”Negeri ini tidak boleh hancur,” ujar Misbakhun.
Tidak mungkinkah dicarikan jalan kompromi? Agar Presiden tidak hanya harus memilih dua pilihan itu?

”Kompromi itu tidak mungkin. Hanya akan menghasilkan kebijakan setengah-setengah,” kata Misbakhun. ”Persoalan sekarang ini terlalu berat untuk diselesaikan dengan setengah-setengah,” tambahnya

Misbakhun memang militan. Berani keluar sebagai pejabat Kantor Pajak adalah contohnya. Berjuang mengungkap kasus Bank Century adalah contoh yang lain.

Ia anak orang miskin. Dari desa. Kuliah di STAN pun karena beasiswa. Cari yang gratis. Ia sebenarnya diterima di universitas terbaik negeri ini. ”Tapi orang tua saya tidak mungkin mampu membiayai,” ujarnya.

Sang ayah kini sudah meninggal dunia. Tapi ibunya masih sehat. Tetap tinggal di desa di pelosok Pasuruan. Di Desa Manik Rejo, Kecamatan Rejoso.

Jelaslah.
Sulit kompromi.

Sudah seperti Sunni dan Syi’ah.
Tapi kita masih punya Presiden. Yang kita pilih sendiri itu.***

Besok: kemana uang yang dicetak itu direncanakan akan mengalir.